Sabtu, 16 April 2016

Merindukan Sakura 🌸

Part "si pemilik Almamater Biru"

Waktu itu aku masik sibuk memikirkan ujian semester akhir, ketika itu pula aku juga masih sibuk memikirkan Azam si mister penuh kejutan. kejutan dima selama aku sekelas dengan dia,bersahabat dengan dia,hingga main dengan dia aku masih jatuh cinta seperti awal pertama kali aku bertemu dengannya. dia itu ibarat musim semi yang selalu dirindukan, merindukan sakura yang bermekaran tanpa rasa bosan. dia itu vitamin untukku karena apa? karena dia yang membuat aku bersemangat untuk masuk kuliah.

Membicarakan pemilik Almamater biru ketika aku keluar ruangan setelah mengerjakan soal ujian yang belum sempat aku pelajari. kebetulan waktu itu aku ujian bukan ditempat biasanya melainkan berbaur dengan mahasiswa lain dari berbagai Pokjar. maklum saja aku kuliah di universitar terbuka.

Aku sibuk berbincang dengan temannku, hingga tak lama salah satu temannku yang lain menghampiriku dengan ekspresi yang tak biasa...
"eh kalian tau gak? ada cowok ganteng yang satu ruangan sama aku". ceritanya dengan antusias. seperti fans ketemu sama oppa oppa korea idolanya.
"mana?" tanya temanku yang sudah dari tadi duduk bersamaku.
" tuh tuh anaknya". jawab temanku yang heboh sembari menunjuk ke arahnya. Si pemilik almamter tengah bercanda dengan temannya yang lain . Dan ku lihatnya dari kejauhan memang dia seperti oppa oppa korea yang lagi ikut ujian.
"wah iya ganteng" jawabku hampir bebarengan dengan temannku.

Dan sejak saat itu aku mulai tertarik dengan pemilik almamater biru, bukan karena dia ganteng, bukan pula karena temanku yang bercerita soal dia sedari ujian tadi melainkan aku melihatnya dari sisi yang berbeda. dia unik, dia misteri, dia gak bisa ditebak namun dia cukup menarik dengan wajah baby facenya yang manisnya pas 😊

saty hal yang pasti aku tidak pernah tau siapa dirimu, aku tidak mengenalmu, aku pun juga tudak menggebu untuk tau siapa namamu...
dan sejak siang itu aku merasa tertantang untuk mengetahuinya....
Aku tidak punya nyali untuk mendekat untuk sekedar menyapa ataupun berkenalan...
kamera yang ku sorot setidaknya  aku bisa melihatmu dari kejauhan...

Dan diujung bangku kala itu...
aku sibuk menerka siapa dirimu...
kita tidak saling mengenal...
yang pasti kamu sedang bersenda gurau...
entah apa yang ku perhatikan...
suara gaduh atau kamu...
hey kamu almamater biru 😊💜

ibarat momiji jingga bersembunyi dibalik momiji kering berhamburan,bisakah aku mengenalmu?
Tanpa nama,pemilik Almamater Biru ...
"merindukan sakura part Almamater biru ☺"
#merindukansakura🌸 #maze #partAlmamaterbiru #aufklarung #poohatiries #gakasikdiasikinaja #aufkalung

Selasa, 15 Maret 2016

Kereta Malam

  Beberapa hari yang lalu aku memberanikan diri untuk pergi sendirian , naik kereta ke kota yang belum pernah aku kunjungi. Dengan penuh semangat  aku sengaja bangun pagi-pagi sekali (03.30) ,karena aku tau ibu kala itu belum bangun dan aku bisa punya alasan untuk segera pergi hanya dengan bersalaman tanpa memberitahu sebelumnya. Ibu melarangku untuk pergi , tapi aku harus tetap pergi untuk bertemu dengan teman-teman panasonicku. 

  Suasana stasiun sudah nampak ramai,maklum saja waktu itu hari Sabtu. Aku tak perlu mengantri, namun aku sedikit kecewa karena tiket kereta yang aku pesan tanpa tempat duduk. dan aku harus bisa menerima perjalanan kali ini akan terasa melelahkan. Suara kedatangan kereta pun berbunyi , dan petugas pemberangkatan kereta sudah bersiap dan aku segera menaiki kereta tujuan Blitar (kota patria). Di dalam kereta penuh sesak dan segera aku mencari tempat untuk ku bisa berdiri dengan tenang dan tanpa harus berdesak-desakan denagn yang lainnya. Ku dapati ruang kosong di sebelah toilet dan tepat di samping pintu kereta, aku bisa melihat pemandangan di luar kereta dengan suasana hijau dan sejuk.

  Seseorang mendekatiku dan membuka percakapan, aku sedikit takut karena dia memiliki rambut yang sedikit gondrong dan sudah terlihat mas-mas. Aku menanggapi pertanyaannya denag sekenanya , lama-lama aku melihat dia tak sesangar penampilannya. Dia sangat baik dengan memeberiku sepotong roti dan menjaga helmku ketika ada beberapa penumpang yang lewat dari tempatku berdiri. Di stasuin Wlingi ia bergegas turun , dan saat itu au melihat dia hilang bersama hingar bingar penumpang yang bergegas masuk ke dalam gerbong kereta.  

  Kereta berhenti di stasiun Garum tepat utin memutuskan untuk menjemputku disana. Sekian lama tak bertemu dan hanya bersua lewat sosmed membuatku merasa kangen dan seneng untuk perjalannku kali ini.
Utin mengajakku kerumahnya sebelum kita memutuskan untuk pergi berkeliling sebentar membayar rasa penasarannku dengan  Taman Makam Bung Kano. Setelah dirasa cukup untuk mengabadikan moment (selfie) kita mampir sejenak di warung kaki lima di trotoar ujung pertigaan untuk mencicipi aneka jajanan murah (sosis , tempura dll) dan kita pun bergegas pulang untuk bersiap menjemput Deena.Tak hanya Deena namun ada juga Meisa (Aun) yang akan melengkapi liburanku kali ini.

  Malam minggu di kota orang membuatku merasa berkesan. ngopi bareng temen-temen (deena , atun , samsul) di rumah Utin. menghabiskan oleh-oleh yang Utin bawa dari Hongkong sembari bercengkrama dengan mereka. Bergurau di kamar Utin memabhas hal-hal yang gak penting serta berselfi yang tak mau ketinggalan.

  2 Hari pun tak terasa aku berada di kota Blitar. Hari Minggu yang harus memisahkan kita, aku harus pulang. Moment berkunjung ke kampung coklat , makam Bung Karno , Istana Ir Soekarno , alu-alun Blitar plus mie soto dan es pleretnya, foto2 di dalamnya membuatku masih berat meninggalkan Blitar. pukul 17.15 Utin danAtun mengantarkan aku dan Deena ke stasiun dan kami pun berpisah.

  Kenyataan pahitpun harus aku terima karena tiket yang aku beli tanpa tempat dduk lagi. Untung saja ada seorang petugas Ka yang baik mempersilahkan kami (aku dan Deena) untuk duduk di salah satu bangku yang kosong. Dan disanalah kami duduk bersebelhan dengan temapt duduk milik orang lain yang sementara kita miliki. Aku sengaja memakai masker kerena kau tau aku bakal ngantuk dan gak lucu juga harus tidur di kereta dengan posisi mulut terbuka lebar dengan tanpa sadar.

   Seorang pria dengan badan bongsor plus gede duduk di sebelahku, aku tak berani melihat karena aku merasa aku bukan teman sebangkunya. Deena nampak sibuk mentransfer foto-foto dia di handphone milikku , seorang cowok yang duduk di hadapanku beranjak da digantikan seseorang lain. aku tak melihat seseorang tersebut namun ketika duduk di hadapanku, aku tercenggang rasanya dia bidadara yan dikirimkan Tuhan untuk menemani sepanjang malamku di Kereta Penataran ini. Mata kami sesekali tak sengaja bertatap , aku tak ingin situasai canggung dan melihat cowok itu dengan katahuan. Aku mengeluarkan buku RADITYA DIKA yang terbaru dan aku mencoba membacanya lagi untuk sedikit menghibur.


    Deena turun di kota Malang , tinggallah aku disini sendiri lagi dan melihat sosok cowok ganteng di depanku yang sudah terlihat memejamkan matanya. sepertinya dia terlihat lelah dan aku tak berani membangunkan dia untuk mengajaknya berkenalan bahkan mengobrol. namun setidaknya ketika kereta  hendak tiba di Bangil dan aku bersiap untuk turun dia terbangun. Dan waktu itu dia terlihat setengah tersadar dan dengan muka letihnya aku masih bisa melihat dia untuk terakhir kalinya. Entah kapan dan dimana lagi aku bertemu dengan dia kembali ,aku hanya bisa bersyukur karena Tuhan malam itu berbaik hati kepadaku, Mengirimkan laki-laki tampan bisa duduk di bangku depanku.  Memang benar aku menyianyiakan kesempatan untuk berkanalan atau bertegur sapa dengannya, akan tetapi Kereta malam itu dan tiket tanpa duduk  memberikan cerita tersendiri untukaku tulis.


to : cowok ganteng celana pendek ^_^


Jumat, 04 Maret 2016

SEPATU

Waktu aku duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) , Aku dituntut untuk memakai hijab dan berseragam rok. Aku merasa sangat canggung memakai rok , karena keseharianku selalu memakai celana yap memang aku sedikit tomboy. Awal pertama kali masuk sekolah , aku memakai sepatu sporty  dengan penampilan pertama memakai rok seragam. aku lihat sekeliling di dalam ruangan kelas , teman-teman memakai sepatu Vantofel  matching dengan seragam. Maklum saja teman-temanku kebanyakan cewek dan minim cowok , cowoknya saja hanya 7 orang saja yang tergabung di kejuruan AKUNTANSI.

Lambat laun aku pun mulai menyadari situasi seperti ini , suatu ketika aku mengajak salah satu temaku untuk pergi ke toko sepatu.

"ve sepulang sekolah kita ke pasar yuk.." ajakku kepada vera teman sepermainanku di sekolah.
"boleh saja nyuk, mau beli apa?". jawab vera setuju dan sedikit terheran.
"ada sesuatu yang akan aku beli ve , pokoknya kamu nemnin aku yaa dan pilihin yang cocok". aku malu-malu.
"iya dech ". ve melempar senyum.


Di Pasar dekat Alun-Alun kota Aku san Vera berkeliling mencari sepatu yang pasa dan cocok di hati yang aku cari. Dan setelah berpanas-pasan barang yang aku cari (sepatu) tak bisa aku dapatkan sesuai dengan keinginan hati.

"yaudah ve kita pulang aja yaa , aku masih belum ada yang cocok". pungkasku kepada Vera yang terlihat kelelahan.
"gak papa Nyuk aku temenin". jawab Vera.
"aku gak enak sama kamu Ve , biar nanti aku pergi ama kakakku lagii aja. Kita pulang yuk..." ajakku mengahiri pencarian sepatu pujaan hati.

Sore harinya aku pergi dengan kakakku  dan alhasil aku bisa menemukannya. Vantofel warna hitam , simple dan nyaman. Hanya saja ukurannya tidak ada lagi yang besar, sisa ukuran 38 size kecil , sedangkan nomer sepatu yang aku pakai size 39.

"gak papa kag aku beli ini aja". jawabku kepda kakak yag merasa tak yakin untuk membeli sepatu itu.
"kamu yakin , itu kecil lho dikaki kamu ntar susah jalan malah kaki kamuyang sakit". protes kakak.
"gak papa kag , aku beli yang ini saja toh aku juga suka". sembarimemebrikan sepatu itu kepada si penjual untuk membungkusnya.
"habis ini  kita ke penjahit sepatu ya kak". tambahku.
"ngapain?" tanya kakak yang sedikit terheran-heran.
"mau jahiti sepatu ini biar gak mudah rusak dan awet". jawabku sambil cengengesan.
"ini ukiran udah kecil malah mau dijahit , mau jadi kecil yang bagaimana nanti fit?" kakak masih protes.

Kami pun bergegas pergi dan menuju ke tempat reparasi sepatu untuk menjahitkan sepatu baruku. Dan sejak itulah aku setia memakai sepatu super mini  size. Dan tiap hari aku harus merasakan jemari kakiku menekuk dan bersikap biasa saja di sekolah. Selain setia sama sepatu vantofe pertamaku , aku juga tidak punya uang untuk membeli sepatu baru lagi. Meskipun di Sekolah aku mendapat sedikit keringanan biaya , tak membuatku  boros dalam menjajakn uang saku. Dengan uang saku 5ribu dan transportasi sepeda usang rasanya tak cocok untuk ku harus bersikap belagu.

Hingga akhirnya dipenghujung kelas X aku harus merelakan septu pertama impianku rusak karena sepertinya kakiku tak cukup mempuni dengan size sepatu tersebut. Aku harus merelakannya lapuk di pojok rak sepatu rumah. Dan Aku juga harus ikhlas memakai sepatu bekas dari sepupuku yang tak terpakai.

Sepatu pertama impianku selalu aku ingat sebagai cerita sepatu yang membuatku bisa berjalan layaknya cewek pada umumnya dan bisa membuatku lebih mengenal siapa diriku sebenarnya (baca kodrat cewek). Terima kasih utuk 1 tahun yang berarti buatku Sepatu Pertama Impian :)

Rabu, 02 Maret 2016

SURAT

Sewaktu aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) aku mulai gemar menulis. Awalnya sich terinspirasi dari nonton sinetron anak muda kala itu berjudul "Inikah Rasanya". sejak pertama kali liat sinetron itu aku mulai tertarik untuk mengikuti setiap episode dan tak mau melewatkannya. Aku masih ingat beberapa pemain di dalamnya. Ada Gilbert Marciano (Jason) , Alisa Soebandono , Nadia vega , Rifqi Balwell dll.

Sekian Episode telah aku tonton dengan setia , dan tak berapa lama dia akhir cerita ada pemberitahuan kalau penonton bisa mengirimkan surat kepada redaksi yang akan disampaikan kepada artis idola dan akan mendapatkan balasan serta foto milik sang artis. aku pun bersemangat untuk bisa mengirimkan surat kepada Gilbert Marciano (Jason).

Suatu ketika setelah selesai mengerjakan PR aku bergegas mengambil kertas surat yang aku beli sepulang sekolah di toko serba ada seharga Rp 2500. aku tulis semua isi hati serta kekagumanku terhadap Gilbert agar Gilbert tau aku fans setianya. beberapa lembar ku habiskan karena setiap kal aku tulis dan kubaca lagi sepertinya aku merasa kurang percaya diri. Hingga kertas ke 8 dan aku merasa sudah pas , aku masukkan ke dalam amplop dan bertekad besok sepulang sekolah surat itu harus segera aku kirim.

keesokan harinya aku meminta sedikit tambahan uang saku kepada ibu namun ibu tak memberikan. dengan uang saku 3 ribu aku rela tak jajan disekolah karena takut uangku tak cukup untuk membeli perangko. teman sepermainannku di kelas sesekali meledekku karena Gilbert tak akan membalsa suratku dan mau mengirimkan fotonya untuk diriku. tetapi dengan tekad bulat dan perasaaan mengebu sepulang sekolah aku bergegas ke kantor pos. jam menunjukkan hampir jam 1 siang dan kebetulan kantor pos belum tutup segeralah aku membeli perangko dan mengirimkan suratku untuk Gilbert.

seminggu ku nanti pak pos tak kunjung datang....
dua minggu kemudian pak pos tak nampak juga datang ke rumahku dan membawakan surat dari Gilbert.
pulang sekolah ibu tiba-tiba teriak dan menyodorkan secarik surat dan berkata
"fit dapat surat dari Jakarta, dari Artis " ibu degan senyum sumringahnya. aku kaget bercampur bahagia, aku ambil surat itu dan bergeges membacanya. Isi surat tersebutGilbert merasa senang apabila ada fans yang selalu mensuport dia. Dan yang membuat aku lebih senang karena Gilbert meberikan Foto gantengnya hehhehee

Karena Gilbert memiliki kumis tipis khas dengan terlihat anak remaja  yang fresh membuat aku merasa tertarik dengan dengan dia.
sesuatu hal bisa membuat seseorang rela mengorbankan dan melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkan. dan jangan lupa lakukan yang itu menurutmu bisa membuat dirimu bahagia dan positif ^_^