Beberapa hari yang lalu aku memberanikan diri untuk pergi sendirian , naik kereta ke kota yang belum pernah aku kunjungi. Dengan penuh semangat aku sengaja bangun pagi-pagi sekali (03.30) ,karena aku tau ibu kala itu belum bangun dan aku bisa punya alasan untuk segera pergi hanya dengan bersalaman tanpa memberitahu sebelumnya. Ibu melarangku untuk pergi , tapi aku harus tetap pergi untuk bertemu dengan teman-teman panasonicku.
Suasana stasiun sudah nampak ramai,maklum saja waktu itu hari Sabtu. Aku tak perlu mengantri, namun aku sedikit kecewa karena tiket kereta yang aku pesan tanpa tempat duduk. dan aku harus bisa menerima perjalanan kali ini akan terasa melelahkan. Suara kedatangan kereta pun berbunyi , dan petugas pemberangkatan kereta sudah bersiap dan aku segera menaiki kereta tujuan Blitar (kota patria). Di dalam kereta penuh sesak dan segera aku mencari tempat untuk ku bisa berdiri dengan tenang dan tanpa harus berdesak-desakan denagn yang lainnya. Ku dapati ruang kosong di sebelah toilet dan tepat di samping pintu kereta, aku bisa melihat pemandangan di luar kereta dengan suasana hijau dan sejuk.
Seseorang mendekatiku dan membuka percakapan, aku sedikit takut karena dia memiliki rambut yang sedikit gondrong dan sudah terlihat mas-mas. Aku menanggapi pertanyaannya denag sekenanya , lama-lama aku melihat dia tak sesangar penampilannya. Dia sangat baik dengan memeberiku sepotong roti dan menjaga helmku ketika ada beberapa penumpang yang lewat dari tempatku berdiri. Di stasuin Wlingi ia bergegas turun , dan saat itu au melihat dia hilang bersama hingar bingar penumpang yang bergegas masuk ke dalam gerbong kereta.
Kereta berhenti di stasiun Garum tepat utin memutuskan untuk menjemputku disana. Sekian lama tak bertemu dan hanya bersua lewat sosmed membuatku merasa kangen dan seneng untuk perjalannku kali ini.
Utin mengajakku kerumahnya sebelum kita memutuskan untuk pergi berkeliling sebentar membayar rasa penasarannku dengan Taman Makam Bung Kano. Setelah dirasa cukup untuk mengabadikan moment (selfie) kita mampir sejenak di warung kaki lima di trotoar ujung pertigaan untuk mencicipi aneka jajanan murah (sosis , tempura dll) dan kita pun bergegas pulang untuk bersiap menjemput Deena.Tak hanya Deena namun ada juga Meisa (Aun) yang akan melengkapi liburanku kali ini.
Malam minggu di kota orang membuatku merasa berkesan. ngopi bareng temen-temen (deena , atun , samsul) di rumah Utin. menghabiskan oleh-oleh yang Utin bawa dari Hongkong sembari bercengkrama dengan mereka. Bergurau di kamar Utin memabhas hal-hal yang gak penting serta berselfi yang tak mau ketinggalan.
2 Hari pun tak terasa aku berada di kota Blitar. Hari Minggu yang harus memisahkan kita, aku harus pulang. Moment berkunjung ke kampung coklat , makam Bung Karno , Istana Ir Soekarno , alu-alun Blitar plus mie soto dan es pleretnya, foto2 di dalamnya membuatku masih berat meninggalkan Blitar. pukul 17.15 Utin danAtun mengantarkan aku dan Deena ke stasiun dan kami pun berpisah.
Kenyataan pahitpun harus aku terima karena tiket yang aku beli tanpa tempat dduk lagi. Untung saja ada seorang petugas Ka yang baik mempersilahkan kami (aku dan Deena) untuk duduk di salah satu bangku yang kosong. Dan disanalah kami duduk bersebelhan dengan temapt duduk milik orang lain yang sementara kita miliki. Aku sengaja memakai masker kerena kau tau aku bakal ngantuk dan gak lucu juga harus tidur di kereta dengan posisi mulut terbuka lebar dengan tanpa sadar.
Seorang pria dengan badan bongsor plus gede duduk di sebelahku, aku tak berani melihat karena aku merasa aku bukan teman sebangkunya. Deena nampak sibuk mentransfer foto-foto dia di handphone milikku , seorang cowok yang duduk di hadapanku beranjak da digantikan seseorang lain. aku tak melihat seseorang tersebut namun ketika duduk di hadapanku, aku tercenggang rasanya dia bidadara yan dikirimkan Tuhan untuk menemani sepanjang malamku di Kereta Penataran ini. Mata kami sesekali tak sengaja bertatap , aku tak ingin situasai canggung dan melihat cowok itu dengan katahuan. Aku mengeluarkan buku RADITYA DIKA yang terbaru dan aku mencoba membacanya lagi untuk sedikit menghibur.
Deena turun di kota Malang , tinggallah aku disini sendiri lagi dan melihat sosok cowok ganteng di depanku yang sudah terlihat memejamkan matanya. sepertinya dia terlihat lelah dan aku tak berani membangunkan dia untuk mengajaknya berkenalan bahkan mengobrol. namun setidaknya ketika kereta hendak tiba di Bangil dan aku bersiap untuk turun dia terbangun. Dan waktu itu dia terlihat setengah tersadar dan dengan muka letihnya aku masih bisa melihat dia untuk terakhir kalinya. Entah kapan dan dimana lagi aku bertemu dengan dia kembali ,aku hanya bisa bersyukur karena Tuhan malam itu berbaik hati kepadaku, Mengirimkan laki-laki tampan bisa duduk di bangku depanku. Memang benar aku menyianyiakan kesempatan untuk berkanalan atau bertegur sapa dengannya, akan tetapi Kereta malam itu dan tiket tanpa duduk memberikan cerita tersendiri untukaku tulis.
to : cowok ganteng celana pendek ^_^