Waktu aku duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) , Aku dituntut untuk memakai hijab dan berseragam rok. Aku merasa sangat canggung memakai rok , karena keseharianku selalu memakai celana yap memang aku sedikit tomboy. Awal pertama kali masuk sekolah , aku memakai sepatu sporty dengan penampilan pertama memakai rok seragam. aku lihat sekeliling di dalam ruangan kelas , teman-teman memakai sepatu Vantofel matching dengan seragam. Maklum saja teman-temanku kebanyakan cewek dan minim cowok , cowoknya saja hanya 7 orang saja yang tergabung di kejuruan AKUNTANSI.
Lambat laun aku pun mulai menyadari situasi seperti ini , suatu ketika aku mengajak salah satu temaku untuk pergi ke toko sepatu.
"ve sepulang sekolah kita ke pasar yuk.." ajakku kepada vera teman sepermainanku di sekolah.
"boleh saja nyuk, mau beli apa?". jawab vera setuju dan sedikit terheran.
"ada sesuatu yang akan aku beli ve , pokoknya kamu nemnin aku yaa dan pilihin yang cocok". aku malu-malu.
"iya dech ". ve melempar senyum.
Di Pasar dekat Alun-Alun kota Aku san Vera berkeliling mencari sepatu yang pasa dan cocok di hati yang aku cari. Dan setelah berpanas-pasan barang yang aku cari (sepatu) tak bisa aku dapatkan sesuai dengan keinginan hati.
"yaudah ve kita pulang aja yaa , aku masih belum ada yang cocok". pungkasku kepada Vera yang terlihat kelelahan.
"gak papa Nyuk aku temenin". jawab Vera.
"aku gak enak sama kamu Ve , biar nanti aku pergi ama kakakku lagii aja. Kita pulang yuk..." ajakku mengahiri pencarian sepatu pujaan hati.
Sore harinya aku pergi dengan kakakku dan alhasil aku bisa menemukannya. Vantofel warna hitam , simple dan nyaman. Hanya saja ukurannya tidak ada lagi yang besar, sisa ukuran 38 size kecil , sedangkan nomer sepatu yang aku pakai size 39.
"gak papa kag aku beli ini aja". jawabku kepda kakak yag merasa tak yakin untuk membeli sepatu itu.
"kamu yakin , itu kecil lho dikaki kamu ntar susah jalan malah kaki kamuyang sakit". protes kakak.
"gak papa kag , aku beli yang ini saja toh aku juga suka". sembarimemebrikan sepatu itu kepada si penjual untuk membungkusnya.
"habis ini kita ke penjahit sepatu ya kak". tambahku.
"ngapain?" tanya kakak yang sedikit terheran-heran.
"mau jahiti sepatu ini biar gak mudah rusak dan awet". jawabku sambil cengengesan.
"ini ukiran udah kecil malah mau dijahit , mau jadi kecil yang bagaimana nanti fit?" kakak masih protes.
Kami pun bergegas pergi dan menuju ke tempat reparasi sepatu untuk menjahitkan sepatu baruku. Dan sejak itulah aku setia memakai sepatu super mini size. Dan tiap hari aku harus merasakan jemari kakiku menekuk dan bersikap biasa saja di sekolah. Selain setia sama sepatu vantofe pertamaku , aku juga tidak punya uang untuk membeli sepatu baru lagi. Meskipun di Sekolah aku mendapat sedikit keringanan biaya , tak membuatku boros dalam menjajakn uang saku. Dengan uang saku 5ribu dan transportasi sepeda usang rasanya tak cocok untuk ku harus bersikap belagu.
Hingga akhirnya dipenghujung kelas X aku harus merelakan septu pertama impianku rusak karena sepertinya kakiku tak cukup mempuni dengan size sepatu tersebut. Aku harus merelakannya lapuk di pojok rak sepatu rumah. Dan Aku juga harus ikhlas memakai sepatu bekas dari sepupuku yang tak terpakai.
Sepatu pertama impianku selalu aku ingat sebagai cerita sepatu yang membuatku bisa berjalan layaknya cewek pada umumnya dan bisa membuatku lebih mengenal siapa diriku sebenarnya (baca kodrat cewek). Terima kasih utuk 1 tahun yang berarti buatku Sepatu Pertama Impian :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar